Minggu, 27 Januari 2013

Karya Tulis- Anak sebagai Korban Perceraian



ABSTRAK
                Kebutuhan dan kondisi anak usia sekolah dan remaja berbeda, sesuai dengan tahapan perkembangan mereka masing-masing. Seorang anak pertama kali hadir di dunia, hanya kedua orang tuanya yang ia kenali melalui perasaan batin. Orang tua pun sangat bahagia dikaruniai buah hati. Dimulai dari lahir, seorang anak selalu tinggal bersama kedua orang tuanya dalam satu atap. Selama masa pertumbuhannya, mereka belum mempersiapkan diri dalam hal “perpisahan” bahkan kata-kata itu belum muncul dalam benak mereka.  Apalagi bagi anak yang selalu berada dalam pangkuan ibunya, ia akan merasa jauh lebih dekat dengan seorang ibu daripada seorang ayah. Ketika permasalahan kecil muncul dalam rumah tangga, orang tua tidak menyadari bahwa sang anak memerhatikan hal tersebut walapun  mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sehingga pilihan perceraian menjadi yang terakhir dan tak dapat dihindarkan yang mereka anggap dapat menyelesaikan malalah. Hanya masalah orangtua sajalah yang selesai, namun untuk masalah si buah hati sampai kapanpun tidak akan pernah selesai.
                 Masalah terbesar  yang biasa mengemuka akibat perceraian pada anak-anak dari setiap usia 6-12 tahun yaitu shock, kehilangan,ketidakpastian, dan tekanan batin, hingga sudah lebih meluas. Pada anak yang berusia enam tahun, karena kesadaran anak makin meningkat, isu-isu baru, seperti rasa bersalah, menyalahkan, mencemaskan kesejahteraan salah satu orangtua,khawatir tentang biaya hidup, atu merasa terperangkap di tengah kedua orangtua yang masih bermusuhan, dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Karena mereka belum mengerti siapa yang benar atau salah, mereka hanya menuruti apa yang orangtua minta. Namun hal itu jauh dari keinginan seorang anak.
                Bagi kebanyakan remaja, perceraian orangtua membuat batin mereka tertekan, tidak nyaman, menangis, sakit hati, terganggu,merasa kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya, dll.  Kehidupan mereka sendiri berkisar pada berbagai masalah khas remaja, seperti narkoba, pergaulan bebas, seks bebas, atau depresi. Mereka tidak memiliki ruang dan waktu lagi terhadap gangguan percerain orangtua dalam kehidupan mereka.
                Bagi seorang anak,remaja,atau usia dewasapun akan menjadikan kejadian tersebut sebagai bencana yang sangat menekan batin, membunuh jiwa semangat untuk masa depan, serta menguras rasa cemburu atau iri terhadap keluarga lain yang bahagia. Namun mereka pasti memiliki suara batin kuat yang memberitahu mereka untuk menjadi mandiri dan mulai membuat kehidupan mereka sendiri.
BAB 1
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
                Angka perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Balidag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. Perceraian terus meningkat secara terus menerus hingga tahun 2011. Hal itu terbukti dengan data-data yang tercatat di Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri. Secara historis, pada tahun 2009 perceraian mencapai 250 ribu. Terjadi kenaikan disbanding pada tahun 2008 yang berjumlah sekitar 200 ribu kasus. Berikut ini adalah data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama RI, yaitu dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-indonesia, maka ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian per  tahun se-indonesia.
                Dalam sebuah hubungan rumah tangga tentunya tidak selamanya berjalan mulus sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan, namun ternyata ada beberapa faktor lain yang secara sengaja atau tidak di sengaja penghambat keharmonisan hubungan keluarga tersebut. Entah kesalahan yang dibuat oleh seorang istri,keselahan yang dibuat oleh seorang suami,atau kesalaham yang dibuat oleh kedua belah pihak.  Salah satu akibat yang di timbulkan dengan adanya konflik tersebut ialah perceraian.
                Perceraian merupakan proses sulit bagi pasangan.akibat bercerai, mantan suami-istri maupun si buah hati merasa tersakiti secara fisik,emosional,lahiriah,dan batiniah. Keributan dalam rumah tangga biasanya dimulai dari hal yang kecil, namun lambat laun karena tidak adanya pengertian satu sama lain atau tidak ada yang mau mengalah maka pertengkaran pun semakin menjadi. Perceraian disebabkan oleh banyak faktor, seperti  : perbedaan prinsip(agama,karir,dll), tidak adanya perhatian dari salah satu pihak sehingga timbulnya perbuatan zina atau perselingkuhan, kekerasan, kecanduan(merokok,mabuk-mabukan, mengkonsumsi obat-obatan terlarang), kesulitan ekonomi, dan sangat kurangnya komunikasi antara suami-istri.
                Perceraian tidak secara otomatis dapat menyelesaikan berbagai masalah dalam perkawinan. Di sisi lain malah menimbulkan masalah baru, dan membuat keluarga yang terlibat merasa tidak nyaman dan  bahagia, yaitu anak. Terutama seorang anak remaja. Remaja sebagai korban perceraian paling sulit untuk menerima hal ini, sulit diberi pengertian, dan sulit diajak berkomunikasi. Sehingga cenderung menjadi pemberontak karena kemarahan dan kekecewaannya terhadap orangtuanya yang bercerai. Mungkin bagi usia anak-anak bias dikendalikan dan dibujuk oleh sesuatu yang disenangi,atau bagi anak yang telah beranjak dewasa lebih mudah diajak berkomunikasi dan memahami apa yang terjadi dengan orangtuanya. Namun bagi anak di semua usia, bagaimanapun juga bencana keluarga tersebut tetap saja melumpuhkan batin mereka, menjadi trauma, dan tidak dapat dilupakan seumur hidup.
B.      RUMUSAN MASALAH

1.       Bagaimana pengaruh perceraian orangtua, baik terhadap perkembangan anak-anak, remaja, maupun dewasa?
2.       Faktor-faktor apa sajakah yang mengakibatkan perceraian?
3.       Bagaimana upaya yang harus dilakukan supaya akibat perceraian tidak mengganggu perkembangan anak?
4.       Bagaimana dampak dari perpecahan keluarga terhadap anak?

C.      TUJUAN PENELITIAN
       
1.       Mengetahui dampak perceraian terhadap anak
2.       Memahami perasaan dan keinginan anak atas masalah perceraian orangtuanya.
3.       Mengetahui berbagai faktor perceraian.
4.       Mengetahui upaya pendekatan terhadap anak akibat perceraian orangtuanya.

D.     MANFAAT PENELITIAN
                Manfaat yang dapat diambil dari penelitian penulis yaitu membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh anak (anak-anak maupun remaja) berkaitan dengan emosinya yang masih sangat labil.

BAB II
PEMBAHASAN
A.     DEFINISI PERCERAIAN
            Perceraian merupakan keputusan terakhir pasangan suami istri untuk saling meninggalkan, baik meninggalkan kewajibannya sebagai suami istri maupun meninggalkan peran sebagai suami/istri/orangtua akibat dari kegagalan keluarga yang mereka bimbing.
                Bagi anak-anak yang belum mengerti maksud dari “perceraian” mereka mungkin sering bertanya-tanya kenapa kedua orangtua mereka tidak pernah bersama-sama lagi. Mereka hanya menuruti apa yang diucapkan oleh orangtuanya. Bagi seorang remaja yang dalam keadaan emosinya masih sangat labil, mereka menganggap hal tersebut adalah kehancuran dalam hidupnya, hidup akan jauh berbeda paska perceraian, merasa segalanya menjadi kacau, dan merasa kehilangan. Bagi anak yang telah dewasa, mereka akan lebih mudah diajak berkomunikasi, lebih bisa memahami situasi dan kondisi, lebih bisa menjaga dirinya sendiri, bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan bisa menasehati kedua orangtuanya sesuai apa yang ia rasakan.
                Intinya pada berapapun usia dari anak-anak yang mengalami perpecahan dalam keluarganya, disatu sisi “kehilangan” adalah masalah pertama yang mereka jumpa. Di sisi lain mereka menunjukkan kesulitan dalam menyesuaikan diri seperti kesedihan, kesepian, kesendirian, keterpurukan, kerinduan, ketakutan, kekhawatiran,dan depress. Itu semua adalah hanya bagian dari rasa kekecewaan terhadap orangtuanya. Yang akan menjadi trauma apabila mereka menyaksikan perkelahian orangtuanya yang begitu dasyat, mereka hanya bisa menangis, mengurung diri di kamar, atau pergi melarikan diri dari rumah untuk menenangkan diri mereka.
                                                                                           
B.      RELASI ORANG TUA DENGAN ANAK
            Sebelum anak mengenal lingkungan luas, lingkungan pertama yang mereka kenal adalah keluarga. Keluarga sebagai kelompok social terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan, yang didalamnya terdapat peran kewajiban dan tanggung jawab.
                Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
                Orang tua merupakan lingkungan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.  Orangtua juga sebagai  sumber  dukungan, semangat, kepekaan, kekuatan, dan sumber kabahagiaan.
                Namun apa jadinya jika semua itu hanya menjadi angan-angan bagi anak-anak yang merasakannya? Anak-anak membutuhkan figure dalam pertumbuhan mereka. Oleh karena itu,dalam kondisi yang berantakan orangtua haruslah bertindak sebagai sahabat bagi anak-anak. Berkomukasi  yang baik seperti halnya persahabatan, dengan berkomunikasi akan menjadi perantara diantara keduanya untuk membangun kembali ikatan yang telah retak, selain itu orangtua juga dapat memahami apa keinginan dan kemauan seorang anak yang tidak dapat mereka ungkapkan secara lisan. Terdapat upaya mengatasi masalah pada anak melalui cara-cara berkomunikasi  yang dapat para orangtua lakukan untuk menjadi tempat curahan hati si buah hati :
1.       Mendorong anak beribadah

                Perceraian orangtua dapat melemahkan kekuatan sang anak. Terutama adalah kekuatan iman. Mengajak anak beribadah bisa menjadi alat komunikasi yang efektif sesuai dengan tahap perkembangannya. Tetap doronglah si buah hati untuk selalu mendekatkan diri kepada ALLAH SWT dengan berusaha dan selalu berdo’a insyaallah si buah hati akan diberkati berlapis-lapis kekuatan(kekuatan iman,kekuatan mental,dan kekuatan fisik), diberikan ketegaran, kesabaran, pikiran positif , optimis, tetap semangat dan pantang menyerah, melumpuhkan segala kelemahan yang menghalanginya. Dengan begitu secar perlahan si buah hati akan tumbuh menjadi anak yang hebat.

2.       Kasih sayang dan perhatian

                Sebagai orang tua, harus memberikan perhatian dan kasih sayang mulai dari hal yang terkecil. Dengan begitu seorang anak akan merasa dipedulikan dan dibutuhkan. Perhatian dan kasih sayang adalah modal utama untuk “kesehatan” jasmani rohani,dan lahir batin. Jika orangtua mengabaikan hal tersebut, maka sebaliknya. Mereka akan memendam rasa benci, merasa tidak berguna dan diacuhkan.

3.       Memberikan kepercayaan

                orangtua adalah yang memegang peranan utama dalam pembentukan kepribadian anak-anak.
Peran orangtua adalah mendidik dan mengarahkan mereka dengan sebaik-baiknya dengan memberikan kepercayaan serta selalu berprasangka baik terhadap mereka. Jika anak berperilaku buruk, bukan berarti anak itu adalah anak yang tidak dapat dipercaya. Semua orang berhak mendapatkan kepercayaan, baik secara internal maupun eksternal.  Setiap anak yang bandel bisa berubah untuk lebih baik lagi. Tergantung bagaimana orangtua mendidik dan memperhatikannya.
 Jikalau orangtua selalu mencurigai, mengintrogasi,dan berprasangka buruk terhadap anak, maka rasa benci serta diperlakukan tidak adil akan tumbuh dibenak mereka. Bahkan tekad untuk berbuat keburukan seperti yang dituduhkan.

4.       Meluangkan waktu untuk anak

                Sesibu-sibuknya orangtua, sehingga dipadati dengan berbagai aktifitas atau pekerjaan bukan berarti pekerjaan tersebut adalah yang terpenting. Yang terpenting bagi orangtua tetaplah si buah hati.beraktivitas bersama buah hati sangatlah menyenangkan dan mampu mempererat hubungan orangtua dengan sang anak.  Jadi apa salahnya jika seorang ayah/ibu meluangkan waktu untuk menghibur anaknya dengan cara melakukan berbagai hal-hal yang mereka sukai? seperti : bermain bola, bermain di taman,memasak dan makan bersama, karaokean dirumah,dan lain sebagainya.  Selain bermain, orangtua juga dapat meluangkan waktu untuk mendengarkan dan memberi solusi terbaik dari keluh-kesah yang disampaikan oleh si buah hati. Hingga pada akhirnya mereka akan membuka dirinya untuk berkomunikasi, untuk saling  menghibur dan merasa dihibur, untuk melupakan perasaan-perasaan atau pikiran-pikiran negative anak.

C.      PERILAKU ANAK SEBAGAI KORBAN PERCERAIAN

                Tidak hanya menjadi kurang pergaulan, anak korban perceraian akan mengalami penurunan nilai akademik, penurunan prestasi baik di sekolah maupun di luar sekolah, berusaha namun dalam kegelisahan, kesepian, ketidakpercayaan diri, dan kesedihan yang berlarut-larut.
                Seorang anak yang sebelum menjadi korban perceraian lebih nyaman dan tentram jika berada di rumah, apalagi dikelilingi oleh keluarga yang lengkap. Namun, semua kenyamanan itu tidak didapat lagi setelah sering terjadinya cek-cok antara orangtua,menjelang dan paska perceraian. Sebuah rumah yang seharuskan dijadikan sebagai  tempat belajar, beradaptasi, sosialisasi, serta bermain tidaklah efektif lagi jika bagaikan kapal yang hancur dihantam angin badai yang begitu dasyat di tengah lautan. Apalagi untuk belajar, untuk bermain saja sangatlah tidak menyenangkan. Hanya akan menambah duka.
                Mereka akan merasa lebih nyaman bermain diluar rumah, nongkrong bersama teman-temannya, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfa’at, bahkan pada anak remaja yang emosinya terbilang sangat labil jika tidak lagi diperhatikan maka akan nekad bertindak menyimpang seperti : berkelahi, merokok, minum-minuman keras, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, serta mulai mencoba-coba seks bebas.
                Tidak semua anak korban percerain terjerumus dalam pergaulan bebas. Sebenarnya ada anak-anak yang tetap mendekatkan diri kepada ALLAH SWT, sadar akan resiko jika bertindak menyimpang, sabar, tegar, berusaha tuk selalu kuat, semangat, tidak putus asa untuk tetap mencapai masa depan yang cerah, walaupun pada kenyataannya keluarga mereka terpecah belah dan terkadang  walaupun status orangtuanya sudah bercerai  tetapi masih tetap saja bertengkar,saling benci dan menyalahkan. Mereka bisa melakukan hal itu karna mereka tidak memendam rasa benci dan tetap menyayangi orangtuanya.  Anak-anak seperti itulah yang patut dicontoh dan dijadikan sebagai teladan dalam masyarakat.

D.      FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PERCERAIAN

                Terdapat banyak penyebab perceraian yang telah tampak dari kasus-kasus yang sering terjadi di Indonesia, diantaranya adalah :

a)      Kurangnya berkomunikasi
                Dalam rumah tangga, komunikasi sangat penting dan sangat dibutuhkan antara suami-istri. Sekecil apapun itu masalah harus memberitahu satu sama lain. Jika tidak, akan memicu terjadinya perceraian. karena dengan berkomunikasi membuat rasa saling percaya, saling mengerti, tidak ada kebohongan, dan tidak ada hal yang disembunyikan. Namun sebaliknya jika dalam rumah tangga gagal berkomunikasi, maka akan sering terjadi pertengkaran karena tidak saling percaya, tidak saling mengerti, banyaknya rahasia yang disembunyikan satu sama lain. Hal ini akan beruung pada perceraian jika kedua pihak kurang atau gagal berkomunikasi.

b)     Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
                KDRT adalah kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh istri yang berakibat timbulnya penderitaan fisik, seksual, psikis,dan ekonomi.  Hal tersebut menjadi salah satu penyebab utama perceraian.

c)      Perzinahan
                Di samping itu, masalah lain yang dapat mengakibatkan terjadinya perceraian adalah perzinahan, yaitu hubungnan seksual diluar nikah yang dilakukan baik oleh suami maupun istri. hal ini bisa terjadi dalam rumah tangga dikarenakan mungkin seperti yang kita bahas sebelumnya yaitu kurangnya atau gagal berkomunikasi, ketidak harmonisan, tidak adanya perhatian atau kepedulian suami terhadap istri atau sebaliknya, saling sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, merasa tidak tercukupinya kebahagiaan lahir dan batin, ketidaksetiaan, atau hanya untuk bersenang-senang bersama orang lain.

d)     Masalah ekonomi
                Uang memang tidak dapat membeli kebahagiaan. Namun bagaimana lagi, uang termasuk kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, faktor ekonomi masih menjadi penyebab paling dominan terjadinya perceraian pasutri di masyarakat.

e)      Krisis moral dan akhlak
                Faktor-faktor  terjadinya perceraian di atas seperti halnya masalah ekonomi, perzinahan, kurangnya atau gagal berkomunikasi, dan kekerasan dalam rumah tangga dapat menimbulkan landasan berupa krisis moral dan akhlak yang dilalaikan oleh suami mapun istri atas peran dan tanggung j

E.       DAMPAK PERCERAIAN TERHADAP ANAK

                Anak merupakan korban yang paling terluka ketika orang tuanya bertengkar atau memutuskan untuk bercerai. Takut dan kehilangan adalah perasaan yang selalu ada di benak mereka. Takut kehilangan seorang ayah atau ibu, bahkan takut berpisah dengan saudara kandungnya sendiri ( kakak atau adik). Takut kehilangan kasih sayang dan perhatian orang tuanya yang akan berpisah.
                Di masyarakat mereka yang menjadi korban perceraian timbul rasa malu terhadap teman-temannya, pasti ia akan berpikir bahwa teman-temannya akan membicarakan hal itu di sekolah maupun diluar sekolah atau jadi sering untuk menyendiri. Dengan ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, kemarahan, ketidaknyamanan, dan kecemburuan yang dirasakan akan sangat mengganggu konsentrasi belajar anak. Prestasi anak di sekolah akan menurun baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.
                Bagi kebanyakan remaja, masalah yang ditimbulkan cenderung ke batin dan pikiran. Batin yang dipenuhi dengan  tekanan,serta pikiran-pikiran negatif selalu muncul yang akhirnya tidak dapat mereka kendalikan. Secara fisik tidak begitu terluka, namun sikis dan  kepribadiannya sangatlah terluka dan berantakan. Bahkan secara perlahan, sebagai pelarian yang buruk anak-anak akan terjerumus dalam pergaulan bebas, seperti : seks bebas, narkoba, mabuk-mabukan, memakai obat-obatan terlarang, atau hal-hal negatif lainnya yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

BAB III
PENUTUP
A)     KESIMPULAN

                Pemutusan hubungan suami-istri dari hubungan pernikahan/perkawinan yang sah menurut syariah islam atau menurut syariah Negara, itulah yang disebut dengan perceraian.
Bukan lagi merupakan implikasi yang kecil bagi pasangan yang sudah memliki keturunan. Ada istilah “ mantan istri/mantan suami “ namun tidak ada istilah “ mantan anak”. Walaupun status orangtua telah bercerai, tetapi kedua orangtua itu masih akan selalu bertanggungjawab atas anak-anaknya.
                Dalam sebuah perceraian kebanyakan orang tidak memikirkan akan kelangsungan kehidupan anaknya, mereka lebih mementingkan urusan pribadinya apalagi bagi orangtua yang telah menemukan pendamping baru. Dengan terjadinya perceraian saja seorang anak sudah merasa sedih dan terluka sekali, apalagi jika ditambah dengan masalah baru yaitu ayah/ibunya menikah lagi dalam jangka waktu yang belum lama dari perceraian. hal itu akan  membuat anak semakin terpukul dan memendam kebencian terhadap orangtua kandung/orangtua tiri tersebut.
                “ seorang anak jika ingin menikah dengan orang yang dicintainya harus meminta restu terlebih dahulu kepada orangtuanya, begitu juga sebaliknya jika orangtua ingin menikah lagi paska perceraian harus meminta restu pula kepada anaknya ” karena jika tidak mendapat restu dari orang yang bersangkutan, pernikahan itu tidak akan berjalan mulus dan selalu ada masalah yang dihadapi. Yang terpenting adalah hargailah pendapat dan rasakanlah perasaan anak-anak.

                Dari kesimpulan yang telah penulis tuangkan dalam karya tulis ini, di dapat HASIL PENELITIAN dari penelitian yang dilakukan :
                Mungkin bagi anak yang masih kecil tidak begitu berpengaruh, tapi jika terjadi pada anak yang menginjak usia remaja hal tersebut  akan berakibat fatal terutama pada psikis dan kepribadian mereka. Beberapa akibat yang ditimbulkan pada remaja dari perceraian yaitu, remaja akan merasa tidak nyaman, kesepian, kehilangan, marah, sedih, suka menyendiri, dan ketakutan. Bagi anak yang masih kecil walaupun tidak begitu berpengaruh, namun tetap saja anak itu merindukan salah satu orang tuanya yang tidak tinggal satu rumah lagi. Dan jika anak yang masih kecil itu sudah tinggan bersama orangtua tiri, maka anak itu akan merasa takut dan hanya nurut kepada si tiri.
                Berapapun usia anak yang telah mengalami kasus perceraian orangtuanya, entah masih kecil, remaja, maupun dewasa, mereka akan merasakan suatu beban yang tidak dirasakan oleh anak lain yang tidak mengalaminya, merasakan luka yang akan membekas seumur hidupnya. Disaat mereka bahagia, terkadang memori kepedihan tentang perpisahan orangtuanya akan muncul secara tiba-tiba dan terpuruk seketika, namun mereka berusaha untuk senyum kembali. Walaupun orangtua mereka telah bercerai, namun mereka tetap bersyukur karena orangtuanya masih ada didunia ini dan masih bisa bertemu untuk melepaskan rasa rindu.
                Perlu diingat bagi para orangtua. Sebaik apapun dalam menangani perceraian, pengaruh perceraian akan selalu membekas pada anak bahkan ketika pertengkaran hebat dan permasalahan orangtua sudah selesai dengan baik.

B)     SARAN

a)      Orangtua harus peka terhadap semua masalah dan konflik yang mungkin memengaruhi buah hati.
b)      Dari kisah kehancuran keluarga si anak korban perceraian, akan selalu ada hikmah dibalik semua ini yang dapat kita petik. Pasti ada sisi positif dari kejadian perceraian. kehancuran keluarga bukan berarti hancur segala-galanya, semua tergantung pada kita yang menjalaninya. Jika kita lemah, terpuruk, dan putus asa maka kehidupan tidak ka nada artinya. Namun bangkitlah bagi anak-anak korban perceraian, situasi itu memaksa dan mendorong kita untuk kuat akan iman,mental,dan fisik, tegar, sabar, mandiri, selalu semangat, pantang menyerah, dan biarkanlah kaki kalian terus melangkah ke depan tuk meraih cita-cita. Karena jika kita membatasi diri kita sendiri, maka kita telah membatasi kemampuan kita.
c)       Buktikan kepada orangtua yang lebih mementingkan pendamping barunya daripada anaknya, bahwa kita bisa sukses tanpa harus disisi dia. Namun janganlah dendam kepada orangtua kita yang melakukan kesalahan, bagaimanapun juga mereka tetap orangtua kita. Tugas kitaa sebagai anak adalah membahagiaan orangtua kita kelak dan maafkanlah semua kesalahan orangtua kita karena didalam hati seorang ayah/ibu yang paling dalam, pasti mereka juga telah lebih dulu memaafkan kesalahan kita sebelum kita meminta maaf.
d)      Janganlah memaksa anak-anak untuk menerima orang tua tiri. Karena hal itu dapat menyiksa batin mereka. Semua itu butuh waktu. Biarkanlah anak itu menyesuaikan dirinya sendiri dalam sebuah kenyamanan.


BAB IV
                      DAFTAR PUSTAKA         


Kamis, 17 Januari 2013

Karya Tulis- Kesenjangan Garis Kemiskinan


ABSTRAK
     Permasalahan kemiskinan menjadi satu persoalan yang tak kunjung selesai dibicarakan dan diperdebatkan, entah itu di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Kemiskinan yang menjadi tanggung jawab Negara juga disiasati oleh pemerintah daerah setempat dengan melakukan berbagai macam progam pengentasan kemiskinan baik itu berupa bantuan material maupun program yang ditujukan untuk mengembangan potensi masyarakat. Satu hal yang biasa dilakukan adalah pemberdayaan masyarakat. Baik melalui pemberdayaan keluarga, pemberdayaan masyarakat, serta pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil.
          Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia telah berhasil menurukan penduduk miskin, meskipun belum mampu menghilangkan kemiskinan di Indonesia. Terjadinya krisis ekonomi yang mencapai puncak pada tahun 1998, menyebabkan jumlah penduduk miskin meningkat kembali secara tajam.berbaga program pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan pemerintah sejak berlangsungnya krisis tersebut mampun menurunkan jumlah penduduk miskin. Namun penurunan terebut   terkesan lamban. Program-program tersebut antara lain : program RASKIN, Program Keluarga Harapan(PHK), Bantuan Operasional Sekolah(BOS), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat(PNPM), Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah(PISEW), Kredit Usaha Rakyat(KUR), dll.
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
            Kemiskinan merupakan masalah sosial laten dan aktual yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji secara terus menerus. Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama, melainkan pula karena masalah ini masih hadir di tengah-tengah kita dan bahkan kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Selama beberapa dekade terakhir, pemahaman tentang kemiskinan telah bergeser dari sematamata pertimbangan penghasilan atau konsumsi ke arah definisi yang mencakup berbagai dimensi ekonomi, politik dan sosial kesejahteraan. Pemahaman kemiskinan meliputi aspek aspek seperti penentuan nasib diri, pilihan, aset, kapabilitas, inklusi, ketaksetaraan, hak-hak asasi manusia, kerentanan, pemberdayaan, dan kesejahteraan subyektif.

            Rendahnya tingkat kehidupan yang sering sebagai alat ukur kemiskinan pada hakekatnya merupakan salah satu mata rantai dari munculnya lingkaran kemiskinan. Walaupun telah dilakukan berbagai upaya dalam menanggulanginya, namun sampai saat ini masih terdapat lebih dari 1,2 milyar penduduk dunia yang hidup dengan pendapatan kurang dari satu dolar perhari dan lebih dari 2,8 milyar penduduk dunia hanya berpenghasilan kurang dari dua dollar perharinya. Mereka hidup dibawah tingkat pendapatan riil minimum internasional. Garis tersebut tidak mengenal tapal batas antar negara. Latar belakang lingkaran kemiskinan di indonesia beraneka ragam,seperti faktor tingkat pendidikan yang rendah, produktivitas tenaga kerja yang rendah, tingkat upah yang rencah, distribusi pendapatan yang timpang, kesempatan kerja yag kurang, kualitas sumberdaya alam yang rendah, penggunaan teknologi yang masih kurang, etos kerja dan motivasi pekerja yang rendah, masih adanya kultur/budaya(tradisi), serta belum stabil jalannya politik di Indonesia. Kemiskinan telah membuat jutaan anak tidak bisa mengenyam pendidikan, dan masalah lain yang menjurus lain yang menjurus ke arah tindakan kekerasan dan kejahatan.

            Salah satu akar permasalahan kemiskinan di Indonesia yakni tingginya disparita antar daerah akibat  tidak meratanya ditribusi pendapatan, sehingga kesenjangan antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin di Indonesia semakin melebar. Misalnya tingkat kemikinan antara Nusa Tenggara Timur dan DKI Jakarta atau Bali, disparitas pendapatan daerah sangat besar dan tidak berubah urutan tingkat kemiskinan dari tahun  1999-2002. Besarnya jumlah penduduk miskin akan berpotensi menciptakan permasalahan sosial yaitu menurunnya kualitas sumber daya manusia, munculnya ketimpangan dan kecemburuan sosial, terganggunya stabilitas sosial dan politik dan meningkatnya angka kriminalitas. Pada gilirannya, kondisi tersebut menghambat perkembangan ekonomi nasional dan menyulitkan Indonesia keluar dari ketertinggalan.

            Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan terjadi, yaitu kemiskinan alami  dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam(SDA) yang terbatas , penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan buatan diakibatkan oleh imbas dari para birikrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi ddan berbagai fasilitas yng tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar  dari kemelut kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.
                Di banyak negara, pemerintah melaksanakan desentralisasi wewenang keuangan, politik, dan administrasi ke tingkat pemerintahan di bawahnya dengan harapan bahwa hal ini dapat meningkatkan mutu pemerintahan daerah, meningkatkan penanggulangan kemiskinan, dan memajukan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Tetapi beberapa penelitian terkini tentang reformasi desentralisasi di seluruh dunia mengungkapkan fakta bahwa kondisi yang tercipta sering tidak sesuai dengan harapan tinggi yang disematkan pada desentralisasi.

1.2.RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang  yang telah saya uraikan maa masalah yang akan saya bahas:
1. Apa faktor penyebab yang melatarbelakangi terjadinya kemiskinan di Indonesia?
2. Sebutkan dan jelaskan dua kondisi yang menyebankan kemisinan terjadi?
3. Akar permasalahan  seperti apakah yang ada di Indonesia, sehingga terjadi kesenjangan diantara masyarakat?
4. Apa dampak dari permasalahan sosial diatas?

1.3.TUJUAN PENELITIAN
1. Mengenali pengetahuan tentang kemiskinan di Indonesia.
2. Memahami kecenderungan kemiskinan di Indonesia.
3. Mengetahui faktor-faktor meningkatnya kemiskinan di Indonesia.
4. Menganalisis multidimensionalitas kemiskinan.
5. Memahami dampak desentralisasi.

1.4.METODE PENELITIAN
Metode yang saya gunakan adalah:
1. Deskriptif.
2. Kajian pustaka dilakukan dengan mencari literatur di internet dan buku – buku panduan.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN
             ABSTRAK
             BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah
1.2. Perumusan masalah
1.3.  Tujuan penelitian
1.4. Metode penelitian
1.5. Sistematika penulisan

     BAB II KERANGKA TEORI
2.1. Pengertian kemiskinan
2.2. Faktor –faktor  terjadinya kemiskinan
2.3. Dampak  dari kemiskinan
2.4. Penanggulangan kemiskinan

     BAB III  PEMBAHASAN
3.1. Konsep kemiskinan di Indonesia.
3.2. Jenis-jenis kemiskinan

     BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan
4.2. Saran
4.3. Hasil penelitian

             BAB V
5.1. Daftar pustaka

BAB II
KERANGKA TEORI
2.1. Pengertian kemiskinan
             Secara etimologis “kemiskinan” berasal dari kata “miskin” yang artinya tidak berharta benda dan serba kekurangan.  Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.
             Dari segi sosial, kemiskinan penduduk dapat juga disebutkan sebagai suatu  kondisi sosial yang sangat rendah, seperti penyediaan fasilitas kesehatan yang tidak mencukupi dan penerangan yang minim (Sumardi dan Dieter, 1985). Kondisi sosial lain dari penduduk miskin biasanya dicirikan oleh keadaan rumah tangga dimana jumlah anggota keluarga banyak, tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan anggota rumah tangga rendah, dan umumnya rumah tersebut berada di pedesaan (BPS, 2002). Dapat juga dikatakan bahwa kemiskinan sosial adalah kemiskinan yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor penghambat sehingga mencegah dan menghalangi seseorang untuk memanfaatkan kesempatan – kesempatan yang tersedia.

2.2. Faktor-faktor terjadinya kemiskinan
 Pada umumnya di negara Indonesia  beberapa penyebab  kemiskinan adalah sebagai berikut :
                2.2.1. Laju Pertumbuhan Penduduk
                        Sama hal nya dengan migrasi, Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat di setiap 10 tahun menurut  hasil sensus penduduk.  Banyaknya jumlah penduduk ini membawa  Indonesia menjadi negara ke-4 terbanyak penduduknya setelah China, India dan Amerika.  Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesia semakin terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum  mapan. Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebanding dengan jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya beban ketergantungan yang harus ditanggung membuat penduduk hidup di bawah garis kemiskinan .
                2.2.2. Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran
                        Secara garis besar penduduk suatu Negara dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang termasuk sebagai tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam batas usia kerja. Tenaga kerja dipiliih pula kedalam dua kelompok yaitu angktan kerja dan bukan angkatan kerja . yang termasuk angkatan kerja  ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usi a kerja yang bekerja atu mempunyai pekerjaan namun  untuk sementara tidak bekerja, dan  yang mencari pekerjaan. Sedangkan yang termasuk sebagai bukan angkatan kerja adalah tenaga kerja dalam usia kerja yang tidak sedang bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak sedang mencari pekerjaan, yakni orang-orang yang kegiatannya bersekolah, mengurus rumah tangga, serta orang yang menerima pendapatan tapi bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya.
                         Selanjutnya angkatan kerja dibedakan pula menjadi dua subkelompok yaitu pekerjadan penganggur. Yang dimaksud dengan pekerja adalah orang-orang yangmempunyai pekerjaan, mencakup orang-orang yang mempunyai pekerjaan danmemang sedang bekerja maupun orang yang memilki pekerjaan namun sedangtidak bekerja. Adapun yang dimaksud dengan pengangguran adalah orang yangridak mempunyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan mencari pekerjaan.
                2.2.3. Tingkat Pendidikan yang Rendah
                        Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan di suatu negara. Ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industry, jelas sekali dibuthkan lebih banyak teanga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis.Menurut Schumaker pendidikan merupakan sumber daya yang terbesar manfaatnya dibandingkan faktor-faktor produksi lain. ( Irawan, 1999).
2.3. Dampak dari Kemiskinan
                Dampak kemiskinan di Indonesia menimbulkan berbagai penyakit pada kelompok risiko tinggi seperti ibu hamil dan menyusui,pada bayi,balita,maupun lanjut usia. Kemiskinan memang selalu ada di tengah-tengah masalah social, ekonomi, budaya, maupun politik . Hal seperti itu telah membutakan dari segi pendidikan . banyak putra-putri Indonesia yang putus sekolah karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pendidikan, siswa yang nekat bunuh diri akibat tertekan oleh ketiadaan ekonomi, banyak pula anak dibawah umur bekerja keras dengan tujuan mendapatkan dan memberikan sesuap nasi untuk keluarganya, dll.
                Di era sekarang ini, kemiskinan memang dapat menyebabkan beragam masalah. Hal tersebut telah memberikan dampak mulai dari tindak kriminal, tindak asusila, penganggura, terganggunya kesehatan, dll.
2.4. Penaggulangan Kemiskinan
                Pemerintah telah menetapkan tiga jalur strategi pembangunan, yaitu:
(1)   Pro-pertumbuhan, untuk meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan melalui investasi
(2)   Pro-lapangan kerja, agar pertumbuhan ekonomi ddpat menciptakan lapangan pekerjaan yang luas dengan menekankan pada investasi padat pekerja
(3)   Pro-masyarakat miskin, agar pertumbuhan ekonomi dapat mengurangi jumlah penduduk miskin dengan penyempurnaan system perlindungan social,meningkatkan akses kepada pelayan dasar, dan melakukan pemberdayaan masyarakat.

Pembangunan yang dilakukan dimaksudkan untuk menciptakan kesempatan kerja yang seluas-luasnya dan mengurangi penduduk miskin secepat-cepatnya dengan melibatkan seluruh masyarakat.
           Instrument utama penanggulangan kemiskinan :
(1)   Bantuan social terpadu berbasis keluarga, bertujuan mengurangi beban rumah tangga miskin melalui peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, dan sanitasi. Seperti ; Program Keluarga Harapan(PHK), Bantuan Operasional Sekolah(BOS), sasaran program BOS 2011, Program Bantuan Siswa Miskin(BSM), Program Jaminan Kesehatan Masyarakat(JAMKESMAS), Program Beras untuk Keluarga Miskin(RASKIN), dll.
(2)   Penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat, bertujuan mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip. Seperti ; Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat(PNPM), Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah(PISEW), Program Penyediaan Air Berbasis Masyarakat(PAMSIMAS), dll.
(3)   Penaggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil, bertujuan memberi akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil. Seperti ; Kredit Usaha Rakyat(KUR), Kredit Usaha Bersama(KUBE),
Sumber : TNP2K, 2011
            Selain itu, pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Tim Koordinasi Peningkatan dan Perluasan Program Pro-Rakyat. Upaya peningkatan dan perluasan program pro-rakyat dilakukan melalui :
(1)         Program rumah sangat murah.
(2)         Program kendaran angkutan umum murah.
(3)         Program air bersih untuk rakyat.
(4)         Program listrik murah dan hemat
(5)         Program peningkatan kehidupan nelayan.
(6)         Program peningkatan kehidupan miskin perkotaan.

                Berbagai program penanggulangan kemiskinan telah dilaksanakan oleh pemerintah. Terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi, program-program tersebut secara nyata telah berhasil menurunkan jumlah masyarakat miskin dan tingkat kemiskinan nasional dalam lima tahun terakhir. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari keberhasilan program-program sektoral yang dilaksanakan secara integratif dan terkoordinasi antar kementerian/lembaga.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Konsep kemiskinan di Indonesia
                Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan satu sama lain diantaranya tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi geografis, gender dan kondisi lingkungan.
Kemiskinan adalah kondisi dimana sesorang atau kelompok orang baik laki-laki maupun perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya yang bermartabat. Konsep ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang menyatakan bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya, dalam hal ini layaknya orang mampu.
                Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan bahwa kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari aspek ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan atau pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan di bawah garis kemiskinan.
Sedangkan dari pendapat para pakar ekonomi melihat bahwa kemiskinan yang terjadi di Indonesia saat ini adalah kemiskinan periodik atau kemiskinan musiman artinya kemiskinan dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. Sedangkan, kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap anggota masyarakat, terutama kaum cacat fisik atau mental, anak-anak yatim, dan kelompok kelompok lanjut usia.
                Pengertian lain disampaikan oleh Prof. Mubiyarto menyebutkan bahwa konsep kemiskinan adalah rendahnya taraf kehidupan suatu masyarakat baik yang berada di pedesaan maupun yang berada di daerah perkotaan. Dari konsep-konsep di atas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan tersebut secara global dapat disebutkan : Kemiskinan adalah rendahnya nilai tatanan kehidupan di suatu daerah, baik di perkotaan maupun di pedesaaan, serta yang menyangkut masalah moral, materil maupun spiritual.

3.2. Jenis-jenis kemiskinan
                Ada berbagai jenis kemisikinan yang terjadi pada bangsa Indonesia antara lain sebagai berikut: Pertama adalah kemiskinan absolut yaitu kemiskinan yang terjadi pada masyarakat dimana kebutuhan-kebutuhan yang minimum tidak dapat terpenuhi. Kedua adalah kemiskinan relatif yaitu kemiskinan yang terjadi akibat dari distribusi pendapatan rata-rata. Hal ini tergantung pada perspektif individu terhadap pendapatan yang dihasilkan perbulan dengan orang lain. Misalnya ketika anda mengetahui seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan yang mempunyai level yang sama terhadap anda dan memiliki gaji di atsa 7 juta perbulan sedangkan anda hanya sekitar 5 juta perbulan maka pada situasi inilah anda telah mengalami kemiskinan relatif.
                Kemiskinan relatif ini terjadi pada siapa saja kecuali yang tidak mempunyai penghasilan karena sifatnya yang bergantung pada persperktif pikiran seseorang. Hal ini terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemiskinan tersebut antara lain sebagai berikut:
a) Kesenjangan sosial yang berlebihan, ini mungkin berhubungan dengan strata sosial.
b) Ketidakadilan Strukural.
c) Efek Pameran Barang-barang konsumtif (demonstration effects).
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
                Berdasarkan pembahasan yang tersebut di atas maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa Program Penanggulangan kemiskinan sudah cukup baik meskipun masih banyak kendala yang terjadi di masyarakat. Ada beberapa kesimpulan yang penulis utarakan diantaranya:
(1)          Program Pemberdayaan Masyarakat maupun program pemberdayaan usaha ekonomi secara mikro dan kecil  perlu dibenahi tentang pendataan warga miskin agar dalam pelaksanaan kegiatan tidak menimbulkan kecemburuan sosial bagi masyarakat miskin lainnya.
(2)          Kemiskinan akan meningkat  jika masyarakat sendiri tidak berusaha dalam memajukan negara.
(3)    Kemiskinan adalah rendahnya nilai tatanan kehidupan di suatu daerah, baik di perkotaan maupun di pedesaaan, serta yang menyangkut masalah moral, materil maupun spiritual.

4.2. SARAN
(1) Ikut serta mencerdaskan bangsa Indonesia.
(2) berjuang, bekerja keras, dan berdoalah jangan pantang menyerah.
(3) saling membantu kepada sesama.
(4) Perlu adanya usaha untuk mengatasi masalah kemiskinan tersebut. Dimulai dari individu itu sendiri dengan cara memberantas kemiskinan didalam diri sendiri melalui pendidikan hingga kejenjang yang lebih tinggi.
(5) perlu dilakukan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, serta pengeluaran dan konsumsi rumah tangga oleh pemerintah untuk mengurangi kemiskinan absolut.

4.3. HASIL PENELITIAN
                Hasil yang dapat diambil oleh penulis melalui kegiatan karya tulis yang berjudul “Kesenjangan Garis Kemiskinan “ adalah :
(1)    Kemiskinan dapat membuat orang putus asa dan  memutuskan cita-cita anak bangsa.
(2)    Pemerintah selalu berupaya untuk meminimalisasikan angka kemiskinan di Indonesia.
(3)    Kemiskinan dapat menimbulkan beraneka ragam masalah.
(4)    Kemiskinan dapat terjadi karena rendahnya kualitas yang dimiliki manusia itu sendiri.

BAB V
Datar pustaka